digital art and ownership
perdebatan tentang nilai karya seni yang bisa di-copy paste
Pernahkah kita melihat sebuah gambar digital yang harganya miliaran rupiah di internet, lalu dengan santai kita klik kanan, save image as, dan tersenyum sinis? Saya yakin kita semua pernah melakukannya. Dalam hitungan detik, gambar yang sama persis berpindah ke laptop kita. Gratis. Tanpa cacat. Lalu kita mungkin berpikir, siapa orang kurang kerjaan yang mau membayar mahal untuk sesuatu yang bisa di-copy paste dengan semudah itu? Perdebatan soal karya seni digital seolah membelah kewarasan kita. Di satu sisi, ada yang rela mengeluarkan harta bendanya demi sebuah file JPEG. Di sisi lain, ada kita yang tertawa sambil menikmati gambar tersebut secara cuma-cuma sebagai wallpaper. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi pada manusia moderen hari ini?
Untuk memahami keanehan ini, mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Sejak zaman nenek moyang kita, nilai dari sebuah karya bertumpu pada satu hal mutlak: kelangkaan fisik. Bayangkan lukisan Mona Lisa. Kita bisa membeli poster reproduksinya di toko suvenir pinggir jalan seharga lima puluh ribu rupiah. Secara visual, poster itu bahkan mungkin lebih cerah dan tajam dari aslinya yang sudah kusam. Tapi, mengapa jutaan orang tetap rela antre berdesakan di Museum Louvre, Paris, hanya untuk melihat kanvas aslinya dari kejauhan?
Dalam psikologi evolusioner, fenomena ini disebut sebagai essentialism. Kita cenderung percaya bahwa ada "esensi" tak kasatmata yang ditinggalkan oleh sang pembuat pada benda aslinya. Sentuhan tangan Leonardo da Vinci, keringatnya, dan waktu yang ia habiskan di depan kanvas itu tidak bisa di-copy paste. Otak kita diprogram untuk menghargai jejak otentik tersebut.
Namun, mari kita bawa konsep psikologi tadi ke dunia digital masa kini. Di sinilah otak kita mulai korslet. Sebuah karya seni digital tidak lahir dari sapuan kuas berminyak. Ia murni diciptakan dari deretan kode biner, angka nol dan satu. Saat teman-teman menduplikasi sebuah file gambar digital, kita tidak sedang membuat tiruan murahan seperti poster suvenir tadi. Kita sedang menciptakan sebuah klon yang seratus persen identik secara matematis.
Jadi, kalau wujud "fisik" digitalnya sama persis, apa sebenarnya yang dibeli oleh para kolektor seni digital itu? Apakah mereka sekadar membeli piksel yang menyala di layar? Ataukah ada sebuah dorongan primal dalam sistem saraf kita yang sedang dimanipulasi oleh teknologi moderen? Tahan sebentar pemikiran ini, karena jawabannya akan memaksa kita mendefinisikan ulang makna kata "memiliki".
Jawaban dari misteri ini tidak terletak pada gambarnya, melainkan pada sebuah konsep sains sosial bernama shared reality atau realitas bersama. Manusia adalah makhluk pencerita yang luar biasa. Kita memberi nilai pada secarik kertas berukir wajah pahlawan dan sepakat menyebutnya "uang". Kertas itu sendiri tidak berharga, tapi kepercayaan kolektif kitalah yang membuatnya berharga.
Dalam seni digital, apa yang dibeli sebenarnya bukanlah gambarnya. Yang dibeli adalah sertifikat kepemilikannya. Di sinilah teknologi seperti blockchain (yang mendasari NFT atau crypto art) masuk. Teknologi ini tidak menyimpan gambarnya, ia bertindak sebagai buku kas abadi yang kebal manipulasi. Buku kas ini mengumumkan kepada seluruh dunia: "Si A adalah satu-satunya pemilik sah dari karya ini."
Secara neurologis, diakui oleh suatu komunitas memicu pelepasan dopamin yang masif di otak kita. Kita sangat haus akan status. Kita membeli cerita. Kita membeli hak untuk diakui, dan kuitansi digital itu adalah panggungnya. Gambar itu memang bisa disalin oleh jutaan orang sesuka hati, tapi kuitansi kepemilikan itu hanya ada satu. Paradoksnya, semakin banyak orang yang men-copy paste gambar tersebut, semakin terkenal karyanya, dan semakin tinggi pula nilai "status" yang dipegang oleh si pemilik asli.
Jadi, apakah masuk akal membayar mahal untuk karya seni digital yang bisa diduplikasi? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita memandang dunia. Jika kita melihat seni semata-mata sebagai objek visual yang indah, perdebatan ini memang akan selalu terdengar absurd. Silakan nikmati hasil save image as di layar gawai teman-teman, dan itu sama sekali tidak salah.
Namun, jika kita melihat kepemilikan sebagai sebuah kontrak sosial antaran manusia, kita sedang menyaksikan sejarah ditulis ulang. Kita sedang belajar bahwa nilai dari sesuatu tidak selalu harus berwujud fisik dan bisa disentuh jari. Terkadang, ia hanya perlu diakui oleh kesepakatan pikiran kita bersama. Pada akhirnya, entah itu kanvas berdebu dari abad ke-15 atau file digital dari tahun lalu, perdebatan ini menceritakan satu hal yang sangat puitis: betapa uniknya cara otak kita mencari dan memberi makna pada dunia di sekitar kita.